AKSI BULLYING PADA ANAK

Sebagai orang tua kadang ketika mendengar anak kita diolok atau dikerjai teman sekolah ataupun teman sepermainannya kita menjadi khawatir bahkan merasa marah, alasannya karena kita merasa kenapa anak kita yang kita tahu tidak bersifat nakal bahkan cenderung diam tapi tetap dinakali oleh teman-temannya. Kenakalan yang dilakukan mungkin tidak hanya sebatas mengolok saja tetapi bisa saja sampai melibatkan kekerasan secara fisik seperti memukul, menjegal, mencubit bahkan paksaan untuk melakukan perbuatan yang bisa membahayakan keselamatan jiwa anak kita. Kenyataan seperti ini sebenarnya bukanlah hal yang baru saja terjadi, melainkan suatu perilaku yang sudah sering dan banyak terjadi di masyarakat tetapi sayangnya belum semua orang sadar akan perilaku tersebut. Beberapa waktu kemarin kita mendengar aksi kekerasan yang terjadi di sekolah sampai menyebabkan tewasnya siswa sekolah tersebut dan itu tidak hanya terjadi di satu sekolah saja melainkan sudah beberapa kali terjadi di tempat yang berbeda. Sebenarnya fenomena apakah yang terjadi saat ini?

Kondisi tersebut biasa dikenal dengan istilah Bullying. Lalu apakah pengertian dari bullying? Bullying berasal dari kata bully yang artinya menggertak atau mengganggu atau bisa diartikan sebagai orang yang suka mengganggu orang yang lemah. Menurut Riauskina, Djuwita dan Soesetio (2005)  Bullying adalah suatu perilaku atau kegiatan yang dilakukan secara sengaja secara berulang-ulang oleh seseorang atau sekelompok anak yang merasa memiliki kuasa atau kekuatan terhadap anak lain yang dianggap lebih lemah dengan tujuan untuk menyakiti.

Perilaku Bullying ini dibedakan menjadi lima, yaitu:

  1. Bullying dengan menggunakan kekuatan fisik secara langsung seperti menggigit, mencubit, mencakar, mendorong, merusak barang kepunyaan korban,dll.
  2. Bullying tidak menggunakan kekuatan fisik tetapi verbal langsung seperti sarkasme, merendahkan ,mempermalukan, mengejek, mengintimidasi, dll
  3. Bullying dengan perilaku non verbal langsung seperti menjulurkan lidah, melihat dengan sinis, mengancam,dll
  4. Bullying dengan perilaku non verbal tidak langsung seperti memanipulasi persahabatan menjadi retak, mengabaikan, mengucilkan, mendiamkan,dll
  5. Bullying dengan pelecehan seksual seperti memegang organ seksual orang lain, mencuri ciuman,dll.

Faktor penyebab bullying :

  1. Adanya tradisi

Tradisi di suatu tempat, atau sekolah dimana setiap anak baru atau siswa baru harus diplonco terlebih dulu sebelum dinyatakan layak bergabung dengan komunitasnya. Terkadang tradisi ini dianggap sebagai suatu proses untuk mengenalkan budaya atau kebiasaan kelompok kepada anggota barunya supaya tidak bingung ketika memasuki kelompoknya. Tetapi sayangnya aksi ini banyak ditunggangi dengan kepentingan lain yang akhirnya disertai aksi bullying baik yang menggunakan kekuatan fisik ataupun tidak, baik yang bersifat verbal maupun non verbal.

  1. Balas dendam

Pelaku bullying sebagian besar adalah orang yang pernah menjadi korban bullying. Adanya perasaan tidak nyaman akibat perilaku bullying membuat seseorang yang pernah menjadi korban bullying ingin melakukan hal serupa seperti yang pernah dia alami kepada orang lain. Adanya rasa puas jika melihat orang lain mengalami rasa tidak enak atau susah seperti yang dulu pernah dia alami menyebabkan seseorang ingin melakukan bullying dengan motif balas dendam

  1. Ingin menunjukkan kekuasaan

Pelaku bullying mempunyai rasa ingin menguasai, dia merasa memiliki kekuatan untuk mengendalikan orang lain, dan jika melihat orang yang tidak sesuai dengan kehendaknya maka dia cenderung menggunakan kekuasaannya untuk memperingatkan bahkan menghukum orang tersebut. Tindakan tersebut menjadi salah satu bentuk bullying.

  1. Adanya rasa marah karena perilaku yang tidak sesuai

Korban bullying mengalami tindakan tersebut karena dianggap perilaku yang dia lakukan tidak sesuai dengan lingkungannya sehingga muncul tindakan untuk memberikan hukuman agar si korban menyadari kesalahannya.

  1. Mendapatkan kepuasan

Bagi pelaku bullying, melakukan tindakan bullying memberikan rasa senang dan puas karena bisa memperlakukan orang lain sesuai keinginannya, terutama bagi wanita. Jika melihat orang lain khususnya wanita yang berpenampilan atau berperilaku yang bertentangan dengannya maka secara otomatis pelaku akan melakukan tindakan agresif seperti menjambak, memukul atau mengeluarkan kata-kata kasar, hal tersebut juga termasuk dalam perilaku bullying.

  1. Adanya rasa iri

Bullying bisa terjadi karena dilandasi adanya perasaan iri terhadap keadaan orang lain. Pelaku menganggap keadaan si korban lebih enak dan lebih bahagia dibandingkan dengan dirinya. Sehingga muncullah rasa iri yang berlanjut dengan adanya perbuatan bullying kepada korban.

 

Dampak bullying:

  1. Bullying mempengaruhi kesehatan fisik.

Secara fisik dapat dilihat jika seseorang menjadi korban bullying yang menggunakan kekuatan fisik seperti pukulan, cubitan,trauma benda keras,dll bahkan bisa berakibat kematian.

  1. Bullying mempengaruhi kesehatan psikis korban

Walaupun bullying tidak dilakukan dengan melibatkan kekuatan fisik, missal menghina, mengejek, mendiamkan,dll bullying tetap bisa mempengaruhi kondisi psikis korbannya menyebabkan si korban menjadi tidak nyaman, khawatir, tidak nyenyak tidur, tidak bernafsu makan, gelisah sehingga pada akhirnya akan menyebabkan turunnya daya tahan fisik korban sehingga akhirnya kesehatan fisik korban akan terpengaruh. Selain itu, bullying bisa menyebabkan rasa malu, rendah diri yang akan mempengaruhi korban secara emosi bahkan bisa menyebabkan terjadinya gangguan psikologis seperti depresi, paranoid, keinginan untuk bunuh diri, dll.

 

Cara menghadapi bullying pada anak:

  1. Ajarkan pada anak untuk menghindar dari pelaku bullying

Ketika sudah mulai ada aksi yang mengarah pada tindakan kekerasan atau keusilan dari pelaku, maka sampaikan pada anak agar dia lebih baik menghindar atau segera pergi menjauhi pelaku supaya dia terhindar dari aksi bullying

  1. Ajarkan pada anak bersikap tegas

Anak perlu diajarkan untuk berpenampilan dan berperilaku tegas seperti bicara dengan lantang, berani tampil ke depan, tidak malu-malu, jika berdiri dia bisa berdiri dengan tegak, tidak cengeng. Dengan bersikap tegas tersebut, biasanya pelaku bullying akan berpikir dua kali untuk menggoda atau mengusili atau membully anak tersebut.

  1. Ajarkan pada anak bisa bicara atau menjawab aksi bullying dengan cerdas dan tepat

Ketika bullying yang dilakukan berupa kata-kata yang mencemooh. Menghina,meremehkan maka sebaiknya anak tidak langsung surut atau takut bahkan jangan sampai menangis karena jika dia sampai menangis maka pelaku bullying akan semakin senang membully nya. Sebaiknya ajarkan pada anak untuk berani menjawab cemoohan atau hinaan tersebut secara tenang dan tidak tersulut emosinya sehingga pada akhirnya pelaku bullying akan diam dengan sendirinya karena merasa si korban tidak menanggapi bullyannya

  1. Ajarkan anak untuk tidak menunjukkan kekesalan atau kemarahan

Anak perlu diajarkan untuk  bisa mengendalikan emosi dan rasa marah ketika menghadapi aksi bullying. Berikan pengertian bahwa rasa jengkel atau marah yang ditunjukkan secara langsung pada pelaku bullying akan memicu pelaku untuk lebih parah dalam membully nya. Sebaiknya kendalikan emosi atau amarah dan segera pergi atau menghindar sehingga pelaku bullying tidak bisa meneruskan aksinya.

  1. Ajarkan anak untuk segera melaporkan kepada guru atau orangtua apabila dia mengalami aksi bullying untuk menghindari perlakuan bullying terulang kembali dan menghindari akibat lain yang bisa membahayakan fisik maupun mental anak korban bullying.
  2. Ajarkan pada anak untuk mengenali perilaku bullying.

Banyak anak yang belum mengetahui tentang bullying. Sebagai orangtua kita perlu memberikan informasi kepada anak mengenai perlakuan bullying baik yang berupa kekerasan fisik, maupun kata-kata ataupun sikap . Anak perlu dikenalkan pada batasan perilaku mana perilaku yang baik, mana perilaku yang tidak baik yang mungkin bisa menyakiti orang lain, sehingga dia tidak akan menjadi korban ataupun pelaku bullying.

  1. Membangun hubungan yang erat dengan anak.

JIka orangtua mempunyai hubungan yang dekat/erat dengan anak maka anak akan merasa aman dan terlindungi di dalam pergaulannya. Apabila ada teman atau pihak lain yang melakukan aksi bully pada dia maka dia tidak akan segan untuk menyampaikan kepada orang tuanya dan sebagai orangtua kita harus bijak dan tegas dalam menyikapi aksi bullying tersebut.

  1. Bangun rasa percaya diri pada anak

Rasa percaya diri pada anak akan menghindarkan anak dari perilaku bullying, karena sebagian besar bullying dilakukan pada anak-anak yang terlihat lemah, tidak berdaya, cengeng,pemalu, ataupun cupu. Sampaikan kepada anak bahwa dia memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan kekurangan, sehingga dia harus belajar untuk bersyukur dan mampu mendayagunakan kelebihannya untuk berprestasi.

 

Referensi

Riauskina, I. I., Djuwita, R., dan Soesetio, S. R. (2005). ”Gencet-gencetan” di mata siswa/siswi kelas 1 SMA: Naskah kognitif tentang arti, skenario, dan dampak ”gencet-gencetan”. Jurnal Psikologi Sosial, 12 (01), 1 – 13

https://pondokibu.com/5-cara-mengajarkan-anak-menghadapi-bullying-di-sekolah.html

Rayi Tanjungsari, http://health.liputan6.com/read/3091629/6-langkah-bentengi-anak-dari-bullying

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *