Kemandirian ibu pasca salin

Seminggu yang lalu saya mendampingi mahasiswa bimbingan saya untuk melakukan follow up pada ibu 2 minggu pasca salin di daerah Loram Wetan Kabupaten Kudus. Saya bertemu dengan seorang ibu yang telah melahirkan anak ketiganya 2 minggu yang lalu secara normal. Saat itu , kondisi ibu dan bayi sehat, bayi nampak tenang dan mampu menyusu dengan baik. Selain bertemu ibu dan bayinya , saya juga bertemu dengan nenek si bayi. Ketika dilakukan pengkajian, ternyata ibu sampai dengan saat ini belum mampu dan belum berani memandikan bayinya sendiri sehingga bayi masih dimandikan oleh neneknya. Saya sempat terkejut, lho…..anak ketiga loh…dan ibu belum berani memandikan bayinya sendiri padahal kondisi ibu dan bayi sehat. Kenapa????itu pertanyaan yang terbersit dalam pikiran saya. Setelah saya tanya, ibu menjelaskan bahwa dia masih takut untuk memandikan bayinya karena merasa bahwa bayi masih terlalu rentan untuk dipegang, takut bayinya jatuh, takut kecengklak(cedera leher mungkin). Waduh waduh….apa yang salah dengan ini. Dari kasus tersebut, saya menjadi berpikir, apa yang kurang ya dalam persiapan antenatal, intranatal dan post natal yang selalu diberikan oleh tenaga kesehatan khususnya bidan. Kalau kasus seperti ini banyak dialami oleh ibu-ibu pasca salin maka kemandirian ibu dalam mengasuh dan merawat bayi sangat kecil dan otomatis angka ketergantungan ibu pada bantuan orang lain (bidan, dukun,orangtua, dll) sangat besar. Secara ekonomi itu bisa merugikan keluarga dan secara interaksi kasih sayang antara ibu dan anak juga kurang. Sebenarnya kemandirian ibu pasca salin dapat dibentuk sejak awal masa hamil melalui kegiatan antenatal class maupun melalui pendidikan kesehatan yang sering diberikan oleh bidan ketika ibu melakukan ANC. Jika antenatal class dapat berjalan dengan efektif , InsyaAlloh para calon ibu akan mampu menguasai ketrampilan perawatan kehamilannya, persiapan persalinan, ketrampilan perawatan nifas dan bayi baru lahir dengan baik. Sehingga kemandirian ibu pasca salin untuk merawat dirinya dan bayinya dapat terwujud dan risiko untuk mengalami post partum blues pun dapat menurun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *